Hot!

Other News

More news for your entertainment
Showing posts with label Fikom. Show all posts
Showing posts with label Fikom. Show all posts

Contoh Essay Perkembangan Jurnalistik Di Indonesia


Banyak dari kaliang mungkin menganggap bahwa essay adalah pertanyaanya yang kalian jawab ketika dibangku sekolah, tapi setelah menyelusuri lebih dalam pengertian essay bukan sebatas itu. Essay adalah ekspresi dari opini seseorang terhadap sebuah hal. Jadi essay sesungguhnya sangat berbeda dengan artikel ilmiah atau sekadar opini eksposure (laporan faktual). Perpaduan antara fakta dengan imajinasi, antara pengetahuan dengan perasaan membuat essay berbeda dibanding jenis tulisan lainnya. Sebuah essay selayaknya dapat menghantarkan pembacanya untuk memahami persoalan dengan cara yang tidak njelimet dan (kadang) bernuansa santai, tetapi tetap sarat makna.

Yang intinya bahwa essay adalah opini kita untuk suatu kasus atau berita yang ada, yang seolah-olah kita sedang bercerita dalam tulisan tersebut, kalau saya rasa pengertian saja kurang cukup lebih baik kalian lihat contoh essay yang sudah saya buat untuk tugas jurnalistik saya, tidak tutup kemungkinan saya masih salah dalam mengerjakan akan tetapi saya hanya berbagi hasil dari saya sendiri.


Tema: Perkembangan Jurnalistik
Judul: Perkembangan Jurnalistik Di Indonesia Dari Dahulu Sampai Sekarang

Pada jaman sekarang mungkin kalian menganggap bahwa jurnalistik itu wartawan, tidak ada salahnya mengdifinisikan seperti itu akan tetapi pengertian jurnalistik sebenarnya mempunyai arti yang sangat luas. Dilihat dari arti jurnalistik berasal dari kata jurnalisme (berasal dari kata journal), artinnya catatan harian, atau catatan mengenai kejadian sehari-hari, atau bisa juga berarti suratkabar. Journal berasal dari istilah bahasa Latin diurnalis, yaitu orang yang melakukan pekerjaan jurnalistik.

Di Indonesia, istilah "jurnalistik" dulu dikenal dengan "publisistik". Dua istilah ini tadinya biasa dipertukarkan, hanya berbeda asalnya. Beberapa kampus di Indonesia sempat menggunakannya karena berkiblat kepada Eropa. Seiring waktu, istilah jurnalistik muncul dari Amerika Serikat dan menggantikan publisistik dengan jurnalistik. Publisistik juga digunakan untuk membahas Ilmu Komunikasi. Yang artinya kalian tidak perlu kerja menjadi wartawan jika ingin disebut jurnalistik, kalian hanya perlu mencatat kejadian sehari yang menarik dan diangap penting lalu kalian bisa terbitkan di mading sekolah atau kampus.

Didalam karangan ini saya membahasas perkembangan jurnalistik dari awal hingga masa sekarang, siapa sih jurnalistik pertama dan bagaimana lika-liku perkembangan jurnalistik di Indonesia. Sejarah jurnalistik dalam indonesia sendiri sudah diperoleh saat indonesia masih belum merdeka. Sejarah perkembangan Jurnalistik di Indonesia menjadi tonggak berkembangnya dunia pers Indonesia hingga sekarang ini masih terus mendunia. Perkembangan jurnalistik di Indonesia mulai tumbuh pesat sejak Indonesia meraih kemerdekaan.
Sejarah perkembangan jurnalistik di Indonesia digolongkan menjadi beberapa fase.

Fase pertama adalah jurnalistik atau pers sebagai alat perjuangan. Pada masa kemerdekaan (1945-1950), pers menjadi alat perjuangan pemberi informasi. Selain itu, pers pun menjadi alat provokasi untuk mengajak rakyat agar berjuang bersama-sama melawan penjajahan.

Fase kedua sejarah perkembangan jurnalistik di Indonesia terjadi pada era 1950-1960. Pada era ini, pergolakan politik di Indonesia mulai terjadi. Pada masa ini, pers indonesia mulai terjebak menjadi media politik. Pers, khususnya surat kabar menjadi media propaganda partai politik. Periode ini menjadi periode dramatis untuk sejarah perkembangan jurnalistik di Indonesia karena pers menjadi alat untuk menjatuhkan citra partai politik lain.

Fase ketiga dari sejarah perkembangan jurnalistik di Indonesia adalah pembredelan pers pada masa Orde Baru. Pada masa Orde Baru, pers dibatasi kegiatannya karena sebelumnya sering mengkritik pemerintahan di bawah pimpinan Presiden Soeharto. Pada masa itu, setiap pers atau unsur jurnalistik yang menetang atau mengkritik pemerintahan akan mengalami pembredelan.

Fase keempat dari sejarah perkembangan jurnalistik di Indonesia terjadi setelah rezim Orde baru runtuh. Setelah rezim Soeharto turun, pers mendapatkan kebebasan dalam melalkukan tugas jurnalistik. Bahkan, sejarah perkembangan jurnalistik di Indonesia mulai bangkit dengan adanya kebebasan pers yang bertanggung jawab. Dalam periode ini, pers menjadi alat pengawas pemerintahan.

Pada era setelah reformasi, sejarah perkembangan jurnalistik di Indonesia menjadi lebih berkembang. Tak hanya menjadi alat pengawas kinerja pemerintahan kita, sejarah perkembangan jurnalistik di Indonesia pun berkembang menjadi industri jurnalistik yang menyuguhkan informasi selain politik, seperti musik, gaya hidup, hiburan, kuliner, dan topik jurnalistik lainnya. Hal itu lah tertularlah jurnalistik yang berkembang dari negara eropa ke indonesia hingga saat ini.

Pengertian jurnalistik ternyata sangat luas dan kita tidak perlu menjadi seorang wartawan professional kalau ingin menjadi jurnalis, yang terpenting kita kritis akan sesuatu dan tentunya bisa menulis dengan baik dan benar. Kita sudah melihat sekilas perjalan jurnalistik di Indonesia yang awalnya di bentuk untuk saling menjatuhkan perang politik dan di masa sekarang pengertianya berubah, jurnalistik adalah yang menyuguhkan berita untuk dinikmati audiencenya, yang dalam garis besar harus bersifat universal tidak memihak kepada sipapun, walau faktanya banyak seorang jurnalis yang menyimpang, maka dari itu saya mengajak kalian untuk menjadi orang yang jujur, terlebih lagi jika ingin menjadi wartawan harus jujur dan mengabdi pada undang-undang pers yang sudah berlaku.


Aghi Leo Prtama

Semoga menjadi manfaat buat kalian semua, saya hanya berbagi jika ada kesalahan silakan dikemtari supaya kedepanya saya lebih baik lagi dalam mengerjakan tugas.
Jika ingin mendwonload contoh essay saya dalam bentuk microsoft word bisa download dari link dibawah yang sudah saya sertakan.

Dasar - Dasar Jurnalstik

A. Pengertian Dasar

Jurnalistik adalah salah satu aktivitas komunikasi yang meliputi seluruh kegiatan penelusuran, pengolahan dan penyampaian informasi yang memiliki nilai sebagai sebuah berita dengan menggunakan media massa sebagai sarana penyajiannya. Penelusuran berarti bahwa informasi tidak datang dengan sendirinya, melainkan dibutuhkan suatu usaha yang sistematis dalam penggalian informasi. Pengolahan menunjukkan, bahwa setelah informasi tersedia maka dibutuhkan keterampilan lanjutan untuk mengemas informasi tersebut sehingga layak disampaikan dan mudah dikonsumsi oleh mereka yang membutuhkannya. Penyajian menegaskan, bahwa aktivitas jurnalistik dirancang untuk mendistribusikan kembali apa-apa saja yang ditelusuri dan diolahnya kepada publik dan tentunya, media massa adalah sarana yang paling efisien dan strategis dalam penyebarannya.
Hal yang juga membedakan jurnalistik dengan aktivitas komunikasi lain, adalah bahwa informasi yang ditelusuri, diolah dan kemudian disajikan kepada publik harus memiliki nilai sebagai sebuah berita. Sesungguhnya, tidak semua informasi dapat dikategorikan sebagai sebuah berita melainkan yang hanya memiliki pengaruh bagi kehidupan kita sebagai individu maupun mahluk sosial.
Apa-apa saja informasi yang dapat dikategorikan sebagai berita? Stovall (2005: 5-8) mengungkapkan, terdapat 7 (tujuh) persyaratan suatu informasi layak diklasifikasikan sebagai sebuah berita, yakni :

1. Berdampak;
Informasi yang memiliki dampak terhadap aktivitas sehari-hari masyarakat bahkan secara fundamental mempengaruhi seluruh sistem di mana masyarakat itu berada.
Contoh:
Pemberitaan tentang pemilihan kepala daerah, menghilangnya barang-barang kebutuhan pokok.

2. Dibatasi tenggat waktu;
Suatu informasi menjadi kurang penting jika sudah terlalu lama berlangsung namun baru saja diulas.
Contoh:
Tragedi terowongan maut di Mina pada musim haji tahun 1996 akan menjadi biasa-biasa saja ketika baru disampaikan sekarang.

3. Selebritas;
Keterkenalan seseorang sebagai daya tarik.
Contoh:
Mungkin wajar-wajar saja orang berpoligami, namun ketika Aa Gym – seorang ulama favorit kaum perempuan – yang melakukannya, maka akan menjadi bahan perbincangan publik.

4. Proksimitas;
Kedekatan geografis dan atau psikologis dengan pembaca/ pemirsa akan menjadikan suatu informasi mendapat atensi yang besar.
Contoh:
Ketika kita tinggal di Bogor, segala informasi yang berkait dengan Bogor menjadi lebih diperhatikan, ketimbang mereka yang tidak tinggal di kota hujan ini. Namun, dapat saja meskipun tidak tinggal di Bogor, seorang alumni IPB akan selalu memiliki emosi-psikologis dengan sesuatu yang berkaitan dengan Bogor meskipun dia tidak lagi tinggal di kota ini.

5. Bermuatan Konflik;
Informasi akan menarik ketika di dalamnya memuat unsur-unsur yang saling berbeda.
Contoh:
Pembunuhan Munir menyedot perhatian banyak khalayak, tidak hanya karena sosok Munir yang dicitrakan sebagai pejuang HAM, melainkan karena adanya dugaan kontroversial keterlibatan Badan Intelejen Negara sebagai otak dibalik peristiwa tersebut.

6. Unik;
Sesuatu yang biasa-biasa saja tidak akan mendapat perhatian dibandingkan yang berbeda bahkan tidak lazim
Contoh:
Kalau seorang lelaki berpoligami mungkin sudah dianggap angin lalu, namun jika perempuan berpoliandri?

7. Isu Kekinian;
Hal yang sedang menjadi fokus perbincangan, akan menarik untuk dikemukakan di depan publik.
Contoh :
Ketika mantan presiden ke-2 RI, HM Soeharto harus dilarikan ke rumah sakit karena kegagalan fungsi-fungsi vital tubuh, maka media sibuk memberitakannya dari berbagai skema, dari perbandingan pelayanan kesehatan antara sesama mantan presiden, masalah yang berkait dengan hukum dan politik, bahkan kemungkinannya meninggal dunia.
Hal yang menarik dari terminologi jurnalistik adalah penggunaan istilah tersebut yang secara bersamaan dan saling bergantian dengan istilah pers dan media massa. Meskipun seolah sama, namun ketiganya memiliki karakter yang berbeda satu sama lainnya. Jurnalistik adalah suatu aktivitas atau dengan kata lain, istilah jurnalistik mengacu pada sebuah kegiatan atau pekerjaan yang meliputi seluruh aspek penelusuran, pengolahan dan penyampaian informasi. Pers adalah perwujudan kelembagaan atau institusionalisasi aktivitas jurnalistik, dan media adalah sarana atau channel di mana pesan dalam wujud karya jurnalistik tersebut disampaikan kepada masyarakat. Jurnalistik tanpa pers, adalah sebuah kesia-siaan, karena aktivitas tanpa wadah menjadikan pekerjaan tersebut tidak dapat dinikmati oleh masyarakat. Sebaliknya, pers tanpa jurnalistik juga suatu omong kosong belaka, apa yang hendak disampaikan oleh suatu lembaga, jika tidak ada aktivitas di dalamnya? Sebagaimana jurnalistik dan pers tidak akan diketahui masyarakat tanpa adanya media massa.
Seberapa penting pelaporan jurnalistik bagi masyarakat? Bila merujuk pada konsep pers sebagai ekstensifikasi indra masyarakat, maka aktivitas jurnalistik ditujukan pada tiga dasar kebutuhan publik atas informasi yakni:

1. Informasi
Seorang jurnalis bertugas untuk menyiapkan berita yang mencerahkan masyarakat sehingga lebih sadar akan keadaan yang berada di sekitarnya. Suatu berita dapat pula membantu masyarakat dalam mengintegrasi informasi  masa lalu dan yang terbaru.

2. Persuasi
Jurnalis dituntut untuk menghasilkan karya yang dapat memfasilitasi diri mereka dalam pengambilan keputusan, sikap atau perilaku sosial tertentu.

3. Hiburan
Jurnalis juga harus melihat bahwa masyarakat membutuhkan sebuah hiburan sebagai pintu darurat dalam kepenatan hidup. Oleh karenanya, berita yang bersifat menghibur/ sensasional adalah salah satu informasi yang banyak dicari oleh masyarakat.

B. Ragam Pelaporan Jurnalistik

Sebuah karya komunikasi, maka bentuk pelaporan jurnalistik tidaklah bersifat tunggal, melainkan beragam sifatnya yang disesuaikan dengan karakter informasi sekaligus kebutuhan publik. Adapun, karya yang diklasifikasikan sebagai produk pelaporan jurnalistik, adalah:
  1. Berita
Laporan tercepat mengenai fakta yang diperlukan untuk diketahui oleh masyarakat.

2. Artikel
Opini individu atas suatu fenomena difasilitasi oleh media massa.

3. Editorial/ Tajuk Rencana
Opini lembaga pers terhadap suatu fenomena yang aktual sebagai cerminan kebijakan lembaga tersebut dalam membeitakan fenomena itu sendiri.

4. Feature/ Karangan Khas
Cerita yang khas dan kreatif tentang suatu situasi, keadaan dan atau aspek kehidupan dengan memadukan afeksi dan gaya kesusastraan

5. Pelaporan Mendalam
Sebuah karya yang mengintegrasikan seluruh aspek-aspek berita, artikel, feature atas sebuah peristiwa yang dipandang memiliki derajat perhatian lebih dari publik, sehingga dapat menampilkan fenomena tersebut secara utuh dan menyeluruh.

6. Foto Jurnalistik
Foto yang menceritakan, mengilustrasikan dan atau  memperkuat informasi yang disajikan.

7. Grafik Jurnalistk
Visualisasi informasi yang memberikan daya tarik dan mempermudah orang untuk memahami informasi itu sendiri.

8. Jurnalistik Penyiaran
Pemanfaatan teknologi audio/ audiovisual/ komputer dalam penyajian informasi.

C. Media Jurnalistik
Media untuk menyajikan karya jurnalistik, diklasifikasikan dalam dua jenis, yakni:
  1. Media Cetak
Media yang menekankan pada faktor verbal dan visual. Verbal adalah kemampuan jurnalis untuk memilih dan menyusun kata sehingga melahirkan karya jurnalistik yang komunikatif. Sedangkan visual menggambarkan kemampuan jurnalistik melakukan reka bentuk naskah sehingga nyaman dan menarik untuk diperhatikan. Secara konvensional, surat kabar dan majalah/ tabloid adalah representasi dari media cetak.
  1. Media Elektronik
Media yang menekankan pada dimensi verbal, teknologi dan dramatisasi. Verbal adalah kemampuan jurnalis untuk memilih dan menyusun kata sehingga melahirkan karya jurnalistik yang komunikatif. Teknologi adalah pemanfaatan teknologi yang memudahkan diterimanya pesan, baik bersifat audio, audiovisual dan komputer. Sedangkan dramatisasi, adalah kemampuan memadukan naskah dengan audio/ audiovisual sehingga diserap oleh indra pendengar/ pemirsa lebih optimal. Secara konvensional, televisi, radio dan internet adalah representasi dari media elektronik.

D. Persebaran

Merujuk pada persebaran informasinya, maka aktivitas jurnalistik dikategorikan dalam 5 jenis, yakni:
  1. Jurnalistik Internasional
Aktivitas, sirkulasi dan distribusi jurnalistik berbasis pada peliputan informasi antar bangsa; umumnya terbit di salah satu negara/ kota yang kosmopolit;
Contoh: Times, Herald Tribune (AS, Inggris)
  1. Jurnalistik Nasional
Aktivitas, sirkulasi dan distribusi jurnalistik berbasis pada peliputan informasi yang merepresentasikan kebutuhan masyarakat sebagai satu bangsa; umumnya terbit di ibukota negara;
Contoh: Kompas, Republika, Suara Pembaruan (Jakarta)
  1. Jurnalistik Regional
Aktivitas, sirkulasi dan distribusi jurnalistik berbasis pada peliputan informasi yang merepresentasikan kebutuhan masyarakat sebagai satu masyarakat kewilayahan, seperti propinsi umumnya terbit di ibukota propinsi;
Contoh: Pikiran Rakyat (Jawa Barat), Suara Merdeka (Jawa Tengah), Kedaulatan Rakyat (Jogja)
  1. Jurnalistik Lokal
Aktivitas, sirkulasi dan distribusi jurnalistik berbasis pada peliputan informasi yang merepresentasikan kebutuhan masyarakat sebagai satu kota/ kabupaten ; umumnya terbit di ibukota daerah;
Contoh: Radar Banyumas
  1. Jurnalistik Komunitas
Aktivitas, sirkulasi dan distribusi jurnalistik berbasis pada peliputan informasi yang merepresentasikan kebutuhan masyarakat dalam satu komunitas/ lingkungan;

Apa Itu Public Relations?


Dalam bahasa Indonesia, biasa public relations disebut dengan Humas (yaitu, hubungan masyarakat). Struktur departemen ini memang disiapkan untuk menjadi “juru bicara” bagi institusi untuk memberikan informasi resmi kepada pihak-pihak luar. Untuk model institusi non profit, struktur PR ini biasanya berbentuk Corporate PR. Sedangkan untuk institusi pencari keuntungan (biasanya berbentuk perusahaan), biasanya memiliki bentuk Marketing PR. Otomatis, bentuk Marketing PR sendiri memiliki irisan atau pun kesamaan fungsi dengan struktur marketing (pemasaran) produk atau jasa dari perusahaan yang dimaksud. Ada pun, fungsi-fungsi yang dapat diwujudkan oleh PR itu sendiri antara lain :
Membangun hubungan baik dengan media massa
Media massa, baik cetak maupun online merupakan sumber berita bagi masyarakat. Apapun jenis informasinya, bisa disampaikan oleh media massa untuk dikonsumsi oleh masyarakat luas. Termasuk pula di antaranya jenis informasi terkait produk atau jasa yang dihasilkan, ataupun untuk membangun pencitraan yang positif atau menghindari ekses negatif dari isu. Dengan pemanfaatan media massa yang tepat, akan menjadi sarana pemberian informasi ke luar institusi yang berefek luas dan berbiaya rendah.
konferensi pers (press conference) adalah media yang biasa digunakan bagi departemen PR untuk berkomunikasi dengan media massa. teknisnya, dalam setiap isu yang ingin digulirkan, PR mengundang media massa untuk hadir dalam press conference. media lainnya adalah interview langsung, tetapi ini biasanya langsung dilakukan oleh pihak mass media yang menghubungi PR perusahaan.
Membangun reputasi dan pencitraan positif
Kontinyuitas komunikasi yang dilakukan dapat diarahkan pada pembentukan citra yang positif dari institusi di mata masyarakat luas. Tentunya, ini semua dapat dibangun dengan berdasarkan kesamaan value yang dituntut oleh konsumen masing-masing produk atau jasa. Kesamaan value yang saya maksudkan dapat berupa : harga yang murah, keberterimaan perusahaan di kalangan masyarakat, gerakan cinta lingkungan hidup, corporate social responsibility, dan lain-lain.
citra positif seharusnya merupakan turunan dari strategi organisasi/individu dalam pembentukan citra yang dikehendaki ada dalam benak konsumen/target komunikan. sebaiknya, citra positif memang didatangkan dari fakta/tindakan yang dilakukan, bukan atas pemutarbalikan kebohongan di masa lalu.
Menetralisir isu-isu negatif
Sama halnya dengan subjudul sebelumnya, hanya saja diarahkan untuk mensiasati isu-isu negatif yang mengarah pada institusi. Pastinya, ada berbagai strategi komunikasi yang dapat dilakukan untuk menghadapi berbagai jenis isu yang mungkin muncul. Salah satunya misalnya adalah memberi tanggapan yang bersifat meng-counter isu miring yang datang. Selanjutnya, dapat dilakukanmaintain persepsi masyarakat terhadap isu miring yang bersangkutan.
satu kisah hebat bagaimana company berhasil melakukan counter issue negative ada pada kasus Indomie. jadi ceritanya, Indomie di Taiwan mendapat sorotan buruk, karena tidak mencantumkan bahan yang ada di dalam proses produksinya, ke dalam kemasan yang memuat mie hasil produksi tersebut. hebatnya adalah, indofood berhasil menangkis issue ini di masyarakat Indonesia, bahkan hingga tersiar ke seluruh dunia, dengan issue positive yang lain : Indomie adalah makanan nasional Indonesia. dan citra nasionalisme berhasil menutup citra negatif tentang bahan yang tidak disebutkan tersebut. semuanya dilakukan kurang dari 24 jam 
Berkomunikasi dengan konsumen dan stakeholder
Tidak hanya masyarakat luas yang menjadi sasaran dari struktur PR ini (melalui media massa, seperti sudah disebutkan sebelumnya di atas), tapi dapat juga lingkup yang lebih kecil lagi, yakni kalangan konsumen produk atau jasa saja atau bahkan hanya kepada pihak-pihak yang berkepentingan terhadap institusi (biasanya disebut dengan stakeholder). Prinsip paling sederhana, dari komunikasi yang kontinyu dari struktur PR kepada kedua jenis sasaran ini adalah mempertahankan trust yang sudah ada.
harapan terbesar dari keberadaan struktur PR dalam organisasi adalah, pihak ketiga (tanpa imbalan materi) yang melakukan komunikasi kepada target. jadi dengan pemeliharaan hubungan yang baik, dan ditunjang dengan tindakan-tindakan nyata yang pernah dilakukan, sebaik-baiknya public relation adalah ketika pihak ketiga yang mengkomunikasikan tentang organisasi/individu kita sendiri.
Mempublikasikan produk dan/atau jasa
Publikasi produk dan/jasa juga dapat memanfaatkan struktur maupun fungsi dari PR ini. Terutama publikasi dalam bentuk berita tentang produk dan/atau jasa tertentu. Di sini, pemanfaatan kompetensi jurnalistik memegang peranan penting dalam pembuatan dan penyiapan berita produk dan/atau jasa.
Mempublikasikan event kegiatan
Event kegiatan yang dimiliki oleh institusi, termasuk di antaranya eventmarketing, dapat pula dipublikasikan secara luas melalui media massa. Oleh karena itu, menjadi tantangan tersendiri bagi struktur PR untuk dapat berkolaborasi dengan struktur pemasaran terkait dengan bentuk event seperti apa yang akan menjadi sumber pemberitaan yang baik bagi media massa.
Mengundang simpati publik
Pemanfaatan momentum peristiwa yang tepat, bila di-blow up dengan strategi PR yang cocok, dan kontinyuitas komunikasi PR akan dapat menghadirkan simpati publik bagi institusi yang bersangkutan. Jika posisi institusi sudah di atas angin seperti ini, strategi komunikasi PR dapat dilanjutkan untuk membangun citra positif institusi di mata masyarakat pada umumnya, dan konsumen sertastakeholder institusi secara khusus.
seringkali, perusahaan/institusi non-profit bekerja sama dengan konsultan public relations. gunanya untuk berdiskusi tentang pesan apa yang sebaiknya disampaikan, bagaimana menyampaikannya serta melalui media apa. biasanya, para konsultan PR sendiri memang sudah berteman dengan media massa. sehingga akan memudahkan untuk menggunakan jejaring pers yang sudah dimiliki oleh mereka.

Pembentukan Karakter

Pernahkah anda bertanya kepada diri sendiri, “Siapakah saya ? Apa karakter saya ? Kepribadianku ? Apa kelebihan dan kekurangan saya ? Mengapa saya bisa seperti ini ? Mengapa saya berbeda ? Dan Bagaimana saya menjadi seperti sekarang ini ?” 
Kerinduan untuk mengenal bagian terdalam diri anda itu wajar dan alamiah sebagai seorang manusia. Sebab hanya manusialah yang mempunyai kesadaran diri untuk bisa berpikir seperti ini. Nah, pertanyaannya adalah bagaimana proses pembentukan karakter saya ? Bisakah saya mengambil bagian dalam tahapan – tahapan perekembangan karakter saya ? Atau, jika anda telah menjadi seorang ayah atau ibu, bisakah kami berperan dalam proses pendidikan karakater anak – anak kami ? Dan bagaimana caranya ? Apa yang harus kami pelajari dan kami ketahui ? Marilah kita simak sama – sama jawaban dari semua pertanyaan tadi.
Proses Pembentukan Karakter
TEORI PEMBENTUKAN KARAKTER
Ada banyak teori tentang pembentukan karakter yang bisa anda baca. Salah satunya adalah teori kode warna manusia yang dicetuskan oleh Taylor Hartman, Phd. Saya suka dengan teori kepribadiannya karena membagi manusia berdasarkan motif dasarnya. Jika anda tertarik untuk menggali lebih dalam teori ini silahkan anda baca dulu resensi buku The Color Code yang sudah saya tulis beberapa tahun yang lalu.
Nah, dari berjuta – juta buku psikologi yang membahas mengenai pembentukan karakter manusia itu, Stephen Covey melalui bukunya 7 Kebiasaan Manusia Yang Sangat Efektif, menyimpulkan bahwa sebenarnya ada tiga teori utama yang mendasarinya, yaitu :
  1. Determinisme Genetis, pada dasarnya mengatakan kakek-nenek andalah yang bebuat begitu kepada anda. Itulah sebabnya anda memiliki tabiat seperti ini. Kakek-nenek anda mudah marah dan itu ada pada DNA anda. Sifat ini diteruskan dari generasi ke generasi berikutnya dan anda mewarisinya. Lagipula, anda orang Irlandia, dan itu sifat orang Irlandia.
  2. Determinisme Psikis, pada dasarnya orangtua andalah yang berbuat begitu kepada anda. Pegasuhan anda, pengalaman masa anak-anak anda pada dasarnya membentuk kecenderungan pribadi dan susunan karakter anda. Itulah sebabnya anda takut berdiri di depan banyak orang. Begitulah cara orang tua anda membesarkan anda. Anda merasa sangat bersalah jika anda membuat kesalahan karena anda “ingat jauh di dalam hati tentang penulsan naskah emosional anda ketika anda sangat rentan, lembek dan berbantung. Anda “ingat” hukuman emosional, penolakan, pembandingan dengan orang lain ketika anda tidak berprestasi seperti yang diharapkan.
  3. Determinisme Lingkungan, pada dasarnya mengatakan bos anda berbuat begitu kepada anda – atau pasangan anda, atau anak remaja yang berandal itu, atau situasi ekonomi anda, atau kebijakan nasional. Sesorang atau sesuatu di lingkungan anda betanggungjawab atas situasi anda.
Menurut teori perkembangan karakter Determinisme Genetis, jawaban atas pertanyaan, “Mengapa karakter saya seperti ini ?” adalah karena anda memang dilahirkan dengan gen seperti itu. Karakter keras kepala anda itu karena anda adalah orang Batak, bukankah semua orang batak memang keras kepala ? Sebagai seorang Madura, anda memiliki DNA ngeyel dan gak mau mengalah ! He…he…he… Atau siapa sih yang gak tahu kalo kebanyakan orang cina itu pedagang yang ulet ?
Jika teori Determinisme Psikis yang menjadi jawaban atas kelebihan dan kekurangan kepribadian anda, maka salahkan orang tua anda yang kurang pandai mendidik ketika anda masih kecil. Demikian pula jika dalil Determinisme Lingkungan yang menjadi jawaban atas hidup anda yang serba kekurangan dan jauh dari cukup. Silahkan anda menyalahkan kelahiran anda di negeri Indonesia ini, atau salahkan bos anda yang terlalu pelit dan tidak bisa menghargai karyawannya.
Sampai saat ini pengetahuan yang sama – sama kita miliki adalah bahwa karakter kita dibentuk sedemikian rupa sehingga kita tidak memiliki kuasa ataupun kemampuan untuk turut campur dalam proses perkembangannya. Namun benarkah demikian ? Tidak adakah sesuatu yang dapat kita lakukan pak Wapan ? Please deh….
PROSES PEMBENTUKAN KARAKTER
Jika boleh saya simpulkan, atas petunjuk dari Om Stephen Covey, kesemua teori pembentukan karakter tadi didasari oleh hukum Aksi dan Reaksi atau hukum Stimulus dan Respon, bisa juga disebut sebagai hukum Rangsangan dan Respon. Kita bertindak seperti ini karena ada stimulus atau rangsangan dari luar diri kita. Itulah faktor yang membentuk jati diri kita. Kekerasan seksual pada masa kanak-kanak Sybil menjadikannya sebagai manusia berkepribadian ganda. Seorang wanita dengan 16 kepribadian yang berbeda. Kekerasan dan Pelecehan seksual dari ayah kandung Billy membuatnya menjadi seorang lelaki dewasa dengan 24 kepribadian yang berbeda. (Silahkan baca tulisan saya sebelumnya mengenai kedua orang ini di Memahami Perkembangan kepribadian dan Karakter Manusia)
Proses Pembentukan karakter
Lain Billy, lain Sybil. Anda pernah mendengar mengenai Elephant Man ? Dari kata-kata tersebut, bayangan anda adalah manusia gajah ? Apakah manusia berbentuk gajah ? Atauhkah gajah yang menjadi manusia ? Ada nggak sih ? Ini fakta atau fiktif sih ?
Elephant ManElephant Man adalah julukan bagi seseorang yang bernamaJoseph Carey Merrick. John Merrick dilahirkan pada tanggal 5 Agustus 1862 di kota Leicester, Inggris. Dia dilahirkan dengan kelainan yang dikenal sebagai neurofibromatosis. Saya gak ngerti artinya, pokoknya dilahirkan dengan cacat yang membuat tubuhnya berbentuk seperti monster. Dahinya menonjol, kulitnya seperti busa dengan permukaan retak, bergantung, berlipat-lipat dari punggungnya. Berkepala yang tidak karuan bentuknya, yang sangat besar, yang lingkarannya sama dengan lingkar pinggan seorang dewasa. Mulutnya seperti bukaan mangkok yang terus meneteskan air liur. Hidungnya seperti tumpukan kulit yang menggantung, sekantong daging seperti leher seekor reptil tergantung dari dadanya.
Lengan kanannya membesar dua kali ukuran normalnya, jari-jarinya gemuk penedek dan tidak dapat digunakan. Ada berlapis – lapis kulit menggantung dari salah satu ketiaknya. Kaki-kaki cacat menopangnya hanya kalau ia berpeangan pada sebuah kurs. Ada bau menyengat tercium dari kulitnya yang berjamur. Pendeknya, silahkan liat foto si Elephant Man ini ! (Capek deh nulisnya!)
Selain memiliki bentuk tubuh yang nggak karu-karuan ini, masa kecil John Merrick juga tak kalah menyedihkan. Di usia empat tahun dia ditinggalkan oleh ibunya dan disuruh cari uang sendiri. Di usia empat belas tahun seorang pemimpin sirkus menemukannya dan memutuskan untuk mendapatkan uang dari penampilannya yang mengerikan itu. Mereka – mereka yang melihatnya akan membayar beberapa sen untuk melihat manusia yang demikian tidak berbentuk, sehingga dari sudut tertentu ia menyerupai seekor gajah dengan bebelainya serta kulit berlipat – lipat. Dari sinilah nama Elephant Man keluar untuk pertama kalinya.
Kisah hidup The Elephant Man ini menarik dan menginspirasi, nanti akan saya tulis deh. Untuk sementara ini kita fokus dulu ke topik proses pembentukan karakter. Nah,  dengan keadaan seperti ini, kira-kira bagaimanakah karakter John Merrick ini ? Apakah dia memiliki kepribadian seorang anjing yang dipukuli ? Kalo sempet liat dong filmnya Jet Lee yang berjudul Danny The Dog, paling tidak hampir mirip dengan cerita The Elephant Man ini, cuman lebih modern !
Film Danny The DogDanny The Dog itu ceritanya si Jet Lee jadi manusia yang kayak anjing. Di lehernya dikasih kalung anjing yang berduri. Kalo si Danny memakai kalung dan tali, maka dia jadi manusia yang penurut, pendiam, dan tenang. Nah, begitu kalungnya di lepas, dia jadi beringas, siapa saja dipukuli sampe semaput, persis seperti anjing gila. Terus kalo mau tenang lagi kalungnya harus dipasang lagi.
Huss…kok cerita Danny The Dog sih….wes..wes…wes… kembali lagi ke topik pak Wapan !!
Yoo…iiii….!!
Menurut semua teori perkembangan kepribadian di atas, sudah tentu John Merrick dewasa nanti akan menjadi manusia buas, tak berperikemanusiaan dan tak bermoral. Namun pada kenyataannya tidak seperti itu ! The Elephant man menjadi seorang yang menyentuh jiwa setiap orang yang bertemu dengannya. Bahkan putri Wales yang akan menjadi Ratu Aleandra mampir untuk menjabat tangannya. Bukan itu saja, banyak selebritis, aktris, dan juga pendeta datang untuk merasakan kehangatan jiwanya.
Hmmm….adakah yang salah dari kesemua teori perekembangan kepribadian diatas ini ? Tidak ! Teorinya tidak salah…teorinya benar….hanya kurang lengkap ! Ada yang kurang, dan faktor itulah yang sebenarnya yang paling penting, yang sering dilupakan oleh kebanyakan orang !
KEBEBASAN, FAKTOR TERPENTING PERKEMBANGAN KARAKTER
“Janganlah takut terhadap mereka yang menguasai tubuhmu, namun tidak berkuasa atas jiwamu !” demikianlah kata salah seorang pemuka agama. Apa yang dapat kita pelajari dari kata-kata ini dan apa hubungannya dengan proses perkembangan karakter yang kita pelajari saat ini ?
Pendidikan Karakter
Faktanya, diantara Rangsangan dan Respon tadi, ada satu faktor terpenting yang seringkali dilupakan oleh semua orang, ya benar ! Anda dan saya ! Yaitu faktor kebebasan untuk memilih. Faktor inilah yang membedakan Billy dan Sybil dengan John “Elephant Man” Merrick.
Dalam kebebasan untuk memilih inilah terdapat anugerah Allah yang menjadikan manusia unik. Selain kesadaran diri, kita memiliki imajinasi – kemampuan untuk menciptakan di dalam benak kita di luar ralitas saat ini -.
Kita mempunyai suara hati – kesadaran batin yang dalam tentang benar dan salah, tentang prinsip – prinsip yang mengatur perilaku kita, dan pengertian tentang tingkat di mana pikiran dan tindakan kita selaras dengan prinsip – prinsip tersebut -.
Dan kita memiliki kehendak bebas – kemampuan untuk bertindak berdasarkan kesadaran diri kita, bebas dari semua pengaruh lain -.
Bahkan binatang yang paling cerdas tidak mempunyai satupun anugerah ini. Dengan menggunakan metafora komputer, binatang diprogram oleh naluri dan/atau pelatihan. Binatang, dapat dilatih untuk bertanggungjawab, tetapi mereka tidak dapat mengambil tanggungjawab untuk pelatihan itu. Dengan kata lain, binatang tidak dapat mengaturnya. Binatang tidak dapat mengubah pembuatan programnya. Binatang bahkan tidak sadar akan pembuatan program tersebut.
Akan tetapi, karena anugerah maunsiawi kita, kita dapat menulis program baru untuk diri kita sendiri yang sepenuhnya terpisah dari naluri dan pelatihan kita. Itulah sebabnya kapasitas binatang relatif terbatas sedangkan kapasitas manusia tidak terbatas. Namun, jika kita hidup seperti binatang, hanya berdasarkan naluri dan pengkodisian serta kondisi kita, hanya menuruti ingatan masa lalu kita, kitapun menjadi terbatas.
Anugerah Allah ini mengangkat kita dari sekedar binatang berkaki dua. Sejauh mana kita melatih dan mengembangkan anugerah ini memberi kita kekuatan untuk memenuhi potensi manusia yang unik. Diantara rangsangan dan respon terdapat kekuatan kita yang paling besar – kebebasan untuk memilih.
Siapakah saya ? Bagaimana proses pembentukan karakter saya ? Apakah lingkungan sekitar kita adalah penyebab kepribadian saya saat ini ? Apakah DNA saya yang menyebabkan pola berpikir saya sekarang ini ? Benarkah trauma masa kecil sayalah yang membuat ketakutan saya untuk berdiri dan berbicara di depan orang banyak ? Jawabannya adalah BENAR ! Namun anda memiliki satu kekuatan untuk merubah proses pembentukan kepribadian anda, yaitu kebebasan untuk memilih tidak memberikan respon yang sama. Anda memiliki kehendak bebas yang tidak dapat dipengaruhi oleh lingkungan anda, faktor genetis anda, ataupun trauma masa kecil anda !